![]() |
| Sumber: Dokumentasi pribadi |
Aku selalu mengulang pertanyaanku, apakah selama ini kedatanganmu hanya karena kesepian? Hidup begitu pelik dengan masalah kehidupan, jika terlalu memikirkan pasti akan menyakiti diri sendiri. Terlepas dari masalah-masalah yang terus datang dan pergi, ada hal -hal yang terkadang menyenangkan hatiku yaitu komunikasi denganmu, ya walaupun aku tahu perasaan ini hanya aku yang punya. Mendengar kabarmu, melihat storymu itu sudah lebih dari cukup bagiku.
Ada hal yang terkadang diluar kendaliku saat melihat story media sosialmu yaitu saat aku melihat ada teman perempuan yang terlihat digambar atau video itu, seberapapun aku berusaha menenangkan hatiku tetap saja aku merasa kesal. Pada intinya aku cemburu, terkadang aku tertawa pada tingkahku sendiri saat melihat story itu, mengapa aku harus mengomel, mengapa aku merasa kesal, bahkan aku merasa menyesal telah melihat storymu.
Kesenanganku selanjutnya adalah ketika storyku dilihat olehmu, wah rasanya senang sekali karena setidaknya kamu telah melihat aktivitasku. Walaupun aku juga tahu karena kesibukan itu mungkin storyku hanya di skip skip saja olehmu, tak masalah asal aku sudah melihat namamu menjadi bagian orang yang melihat storyku.
Perihal mempunyai rasa itu lucu ya, aku heran pada diriku sendiri, mengapa aku bisa sedemikian itu?
Tapi suatu waktu aku mulai sadar, bahwa jika bukan aku yang chat, apakah komunikasi itu akan tetap ada?. Hingga suatu ketika aku pernah menjadwalkan secara mandiri kapan aku akan mengubungimu selama setahun dan lain sebagainya. Sebegitunya seorang aku yang menginginkan komunikasi denganmu.
Saat aku merasakan perasaan dan melihat dengan kenyataan bahwasannya tidak akan ada komunikasi jika bukan aku chat, jika bukan aku yang bertanya kabarmu, apakah kamu akan menanyakan kabarku? bukankah ini sudah jelas bahwa tidak adanya keseimbangan dalam komunikasi yang bisa dianggap berat sebelah.
Suatu waktu aku sudah berusaha keras membentengi diri agar tidak menghubungimu walaupun sangat ingin. Berperang dengan egoku, hingga aku mampu menahan diri beberapa minggu kadang sampai beberapa bulan untuk tidak mengubungimu. Aktivitas dan waktu membuatku bertahan tidak menghubungimu, bahkan kala itu aku benar-benar sudah bisa melepas untuk tidak menghubungimu, tetapi tiba-tiba kamu datang, dan itu membuat runtuh bentengku.
Disini aku bertanya tanya, mengapa hadirmu disaat-saat aku sudah berusaha untuk melupakan dan melepasmu, apakah kamu datang pada waktu itu memang ingin bertanya tentang kabarku atau hanya karena kamu kesepian?

Komentar
Posting Komentar