Aku menceritakan
pengalamanku yang berulang kali terjadi pada diriku. Manusia itu diciptakan
memiliki berbagai bentuk emosi. Faktor lingkungan menjadi salah satu munculnya
bentuk-bentuk emosi tersebut. Bisa dibilang emosi adalah bentuk efek yang
muncul karena sesuatu terjadi.
Aku tidak
mengerti apa yang terjadi pada diriku, aku muhasabah diri, bahwa aku adalah
orang yang tidak sabar, mudah marah (galak/judes), cerewet, keras kepala. Empat
hal itu adalah kelemahan yang paling sangat menonjol dalam diriku. Aku tahu,
itu semua adalah emosi yang tidak baik, bahkan emosi yang sangatt sangattt
sangattt tidak baik.
Banyak
beberapa orang-orang terdekatku mengatakan aku seperti itu, mereka lebih
dominan mengatakan aku galak. Tanpa basa basi mereka mengatakan itu kepadaku, bikin sesak didada, bahkan aku pikir mereka tidak memikirkan perasaanku. Tapi tak apalah aku masih bisa menahan semua itu. Lalu itu menjadi renungan hebat dalam diriku.
Aku berulang
kali mencoba mengendalikan keempat emosi itu. Aku percaya emosi tidak akan
muncul jika tidak ada sesuatu yang terjadi yang menstimulusnya, dan itu berlaku untukku.
“Aku adalah
manusia ciptaan Allah yang bisa mengendalikan emosi”, iya aku selalu ulangi
kalimat itu berulang kali. “aku pasti bisa” “aku pasti bisa”.
Tips: semua
itu tidak mudah tapi hal pertama yang harus dilakukan jika sedang marah adalah
menahan berbicara dan menarik nafas minimal 10 kali, pejamkan mata dan
beristigfar. Nah saat sudah tenang, maka barulah berbicara perlahan dan
kendalikan marahmu.
Apakah semua
itu akan manjur seterusnya??? Iya, akan manjur jika memang dilaksanakan dengan
baik.
Apakah semua
akan melaksanakan dengan baik? TIDAK, contoh : AKU.
Aku sadar
aku bisa melakukan tips itu, tetapi aku adalah manusia yang banyak kurangnya.
Ada masa dimana aku tidak bisa mengendalikan emosiku, sehingga aku marah, aku
berbicara dengan tegas. Aku dinilai galak, cerewet dan tidak sabar. Dan kuakui
memang begitulah emosiku yang muncul jika aku tidak bisa mengendalikannya.
Disisi lain
ada hal yang sering terjadi pada diriku jika aku sadar tidak bisa mengendalikan
emosi. Aku menangis dalam sesak, aku benci pada diriku sendiri. Aku pikir itu
adalah bentuk pelampiasan atas diriku yang tidak bisa mengendalikan emosiku.
Terlebih lagi ada yang membuatku lebih sesak didada, apakah itu? yaitu tanggapan mereka / orang orang yang menilaiku galak galak dan galak. orang orang yang selalu protes atas raut wajahku yang katanya bisa terbaca inilah itulah dan sebagainya.
Semoga bisa menjadi pelajaran untuk semuanya, bahwa berbicara itu harus hati hati, jangan asal berbicara. Teruslah mengontrol emosi agar semua tetap selalu baik baik saja.
Katakan sekali bahwa "Semua baik-baik saja" :)

Komentar
Posting Komentar