Pondasi yang kokoh


sumber: https://www.pngdownload.id

Pondasi yang kokoh.

Saat ini aku adalah wanita yang masih betah dalam kesendirianku. 
Perihal ingin pasti semua orang ingin, tanpa kecuali aku. Membangun rumah tangga harmonis, aman dari masalah dan bahagia selamanya. Eitttsss, anda yakin rumah tangga harmonis adalah yang terhindar dari masalah? aku pikir itu pemikiran yang salah total.
Masalah itu adalah pelumas untuk menjadikan keluarga menjadi harmomis. Yupsss gak semua masalah berakhir menjadi sebuah pertengkaran bukan, semua tergantung bagaimana cara menyikapi dan mengkomunikasikan satu sama lain. 

Aku belum menjadi orang yang berpengalaman dibidang ini, tapi jika aku melihat lingkungan sekitar, aku memiliki pemikiran atau opini tersendiri mengenai rumah tangga. Aku akan memulai cerita dari beberapa masalah diantaranya:

1. Ada sebuah keluarga yang tentunya suami menjadi pencari nafkah utama. Tapi sayangnya istri  tidak melihat jerih payah bekerjanya suami, sehingga tidak merasa puas dinafkahi suami karena selalu ingin lebih. Mungkin ada faktor yang lain yang jadi pertimbangan sehingga membuat istri bercerai dengan suami. Pada akhirnya keluarga itu tidak terselamatkan.
2. Seorang suami yang mempertahankan rumah tangga tapi sepanjang hidupnya terluka dan tertekan, bagaimana bisa? Pun bisa saja sebaliknya. Apakah dasar cinta sudah tidak melekat didalam hati keduanya.

3. dsb.....

Baiklah, dari beberapa contoh masalah diatas aku akan memulai opiniku:

Sejatinya membangun rumah tangga itu harus berlandaskan pondasi yang kokoh. Antara suami dan istri harus kompak satu sama lain, harus bisa saling menghargai kelebihan dan kekurangan masing masing. Satu hal kunci utama dalam rumah tangga adalah “berkomunikasi dengan baik”. Sesekali aku berpikir aku sok iyessss banget ya, belum berumah tangga tapi udah sok sok tau urusan begini, hehee tapi aku pikir justru karena belum berumah tangga alangkah baiknya memang harus tahu perihal begini, sehingga saat praktek semua bisa terselamatkan. 

Banyak suami yang tidak bersyukur, begitupun sebaliknya. Aku pikir berumah tangga adalah penjabaran rasa syukur dalam kehidupan yang sebenarnya. Setiap masalah yang muncul harus dikomunikasikan dengan baik-baik agar didapat penyelesaian yang baik. Baik suami ataupun istri jangan egois, dan menuntut. Aku tahu diantara keduanya memang mempunyai kewajiban dan haknya masing-masing, yang jika tidak dipenuhi maka bisa saja dituntut. Tetapi dalam meminta hak, harus melihat keadaan. Jangan hanya memandang sebelah mata lalu anda meminta ini dan itu, dan jika tidak dikabulkan maka berujung masalah, lalu cerai. Keluarga macam apa seperti itu? Sangat egoissssss. Aku rasa keluarga yang seperti itu adalah keluarga yang pondasinya belum kokoh.

Perihal lain dalam rumah tangga yaitu cinta dan kasih sayang, jika keduanya sudah hilang dalam diri individu, maka rumah tangga itu akan terasa hambar dan bisa menimbulkan masalah.

"Cinta dan kasih sayang" menjadi pondasi ikatan kedua hati dalam membangun rumah tangga yang hormanis, bukankah begitu? Itu si pendapatku. Jika dalam rumah tangga dibangun dengan pondasi itu maka aku yakin insya Allah semua aman terkendali.


Komentar