Antara suatu kebanggan atau beban?

 

(sumber: https://www.kibrispdr.org/)
Menyikapi berbagai persoalan duniawi tidak akan ada habisnya. Masalah dari A sampai Z semua komplek ada didalamnya. Seperti manusia pada umumnya, kadang ingin menjerit meluapkan tekanan batin yang menumpuk, tapi semua tertahan dalam hati. Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika memang netizen mengatakan itu. Rupanya netizen itu tak semata-mata dari lingkungan eksternal, bahkan dari lingkungan internal dan teramat dekatpun bisa memungkinkan menjadi tekanan.

Bercerita tentang anak pertama, iya itu SAYA. Apakah aku bangga menjadi anak pertama, atau justru merasa terbebani. Kesemuanya itu berpadu menjadi satu kesatuan, yang melekat erat. Sisi lain aku bangga menjadi anak pertama dengan begitu aku bisa menjadi tolak ukur, contoh yang baik, dan lain sebagainya, tetapi disisi yang lain menjadi beban, sebab dengan menjadi contoh aku harus bisa menjadi teladan terkhusus untuk adik-adikku, dengan menjadi tolak ukur orang tua aku harus menjadi anak yang seakan harus menjadi yang perfect. Begitukah??

Nyatanya diri ini masih jauh dari semuanya itu, dengan umur yang terbilang bukan muda lagi, aku merasakan betapa orang tua akan memikirkanku, dan khawatir pastinya. Beliau mungkin mengharapkan aku yang harusnya sudah bisa A, bisa B bisa C dan lain sebagainya. Aku memahaminya, bukan hal yang salah, wajarlah karena sebagai sosok orang tua, apalagi sudah menyekolahkan sampai ditahap sekarang. Tapi dibalik aku memahami semua itu, ada tekanan batin yang sungguh membebaniku.

Aku percaya Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya. Sehingga aku yakin, dibalik beban ini, suatu saat nanti sembari berjalannya waktu pasti akan ada jalan terbaik-Nya.

Kuncinya adalah tetap sabar dan bersyukur, selalu meminta dan hanya berharap pertolongan Allah SWT.

Komentar