Dua pandangan:
1. Beberapa perempuan belum tentu mau diajak komitmen/menikah kalau sang laki-laki belum mapan (hidup menjanjikan).
2. Dengan begitu beberapa laki-lakipun merasa kurang percaya diri dan berusaha memapankan diri sebelum menikah, mereka ketakutan mau diberi makan apa anak istrinya kelak?
Gak ada yang salah, si perempuan tidak salah, si laki-lakipun juga tidak salah.
Tapi menurutku pandangan ini jangan sepenuhnya jadi patokan, kenapa?
Karena justru perempuan yang menerima laki-laki dari nol, ialah perempuan setia yang mau diajak berjuang, menemani suka duka kehidupan dari awal perjuangan.
Dialah perempuan yang menerima laki-laki apa adanya.
Dialah perempuan yang benar-benar mencintai dengan tulus, yang bisa membuat tersenyum, dikala sedih ia akan menghibur, dikala bahagia ia akan selalu disisi/disamping.
Membantu perjuangan, menemani suka duka kehidupan, dan mendidik anak-anak dengan kasih sayang keibuannya.
Aku ingin membersamaimu dari nol, dari awal perjuanganmu. Aku mencintaimu karena aku mencintaimu.
Kalianda, 12 April 2022
Komentar
Posting Komentar